Dua Orang yang Berbakti
Membina Kehidupa Abadi, Bab 13
“Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini” (Lukas 18:9)
Orang Farisi pergi ke bait suci untuk beribadah, bukan karena ia merasa bahwa ia adalah seoarang berdosa yang memerlukan pengampunan tetapi karena ia merasa ia itu benar dan ingin orang-orang melihat kebajikannya.
Pemungut cukai pergi ke bait suci dipenuhi oleh perasaan bersalah. Ia hanya memikirkan kebutuhannya terhadap pengampunan dan kedamaian bersama Allah. Ia percaya pada kemurahan Allah.
Kedua individu ini mewakili kedua golongann utama mereka yang datang untuk beribadah kepada Allah: mereka yang merasa diri benar dan mereka yang mengenali kebutuhan terhadap Juruselamat. Kedua kelompok ini sudah ada sejak Kain dan Habel membawa korban mereka kepada Allah. Kesombongan spiritual adalah kejatuhan banyak orang sekarang ini. Tidak ada yang begitu menyakitkan bagi Allah atau begitu bahayanya bagi keselamatan kita sebagaimana kesombongan dan merasa cukup diri. Dari semua dosa, itulah yang paling tak berpengharapan, yang paling tidak bisa disembuhkan.
Akan tetapi mereka yang mengenali akan kebutuhan mereka dan rendah hati secara spiritual akan mendapati juruselamat siap mengangkat mereka. Setan tidak memiliki kekuatan untuk menaklukkan satu jiwa yang menyerahkan dirinya sendiri pada Kristus dalam kepercayaan yang sederhana. “jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni dosa dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1 : 9).
Pokok Pikiran: “kehidupan dimana takut akan Tuhan didambakan tidaklah akan menjadi kehidupan yang sedih dan suram. Ketidak hadiran Kristuslah yang menjadikan wajah sedih dan kehdupan menjadi pengembaraan yang penuh keluh kesah. Orang yang dipenuhi dengan pengharapan terhadap diri dan cinta diri tidak merasakan persatuan pribadi yang hidup dengan Kristus…. Mereka ingin berjalan pada jalan yang cukup lebar untuk membawa serta sifat-sifatnya sendiri. Cinta dirinya, cinta kepada kepopuleran dan gila pujian, mengeluarkan juruselamat dari hati mereka…. Tetapi Kristus yang tinggal dalam jiwa adalah suatu sumber kesukaan. Bagi semua orang yang menerima Dia, kunci inti dari firman Allah menyukakan hati” (Membina Kehidupan Abadi, hlm. 120).
Pelajaran Hari Ini: jika kita ingin diselamatkan, maka harus melalui kasih karunia Allah yang tiada batasnya, bukan melalui perbuatan baik kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar