“Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yohanes 5:30).
Sebuah kisah diceritakan tentang seorang pekerja bangunan yang makan roti sosis tiap hari sebagai makanan siang. Hari demi hari dia makan roti yang sama. Suatu hari, dia makan bersama seorang teman, pria itu terhenti ditengah gigitan roti yang sudah habis dimakan setengahnya dan menggerutu. “saya benci roti sosis!” setelah diam beberapa saat ia mengulangi, “saya benci roti sosis!”
“mengapa tidak meminta kepada istrimu?” Tanya temannya dengan lembut “saya yakin dia akan membuatkanmu yang lain.” Pria itu mendengus, “saya sendiri yang menyediakan sosis itu.”
Sebagian besar sosis’ dalam kehidupan, kita kemas sendiri. Berbeda dengan teori populer, kita sebenarnya bukan semata-mata korban dari penyakit masyarakat. Allah menciptakan kita sebagai makhluk yang berpikir cerdas. Dia telah memberikan kita kuasa memilih.
Ketika Allah menempatkan orangtua pertama kita di rumah taman mereka, Dia memberikan kepada mereka kuasa memilih. Mereka tidak ditakdirkan untuk gagal, menjadi korban persekongkolan kosmik, atau boneka yang dimanipulasi oleh benang ilahi. Intisari gambaran Allah adalah kemampuan untuk membuat pilihan-pilihan moral. Kebebasan memilih dan menerima tanggung jawab untuk pilihan-pilihan yang kita buat adalah inti dari apa artinya menjadi manusia. Allah begitu menghargai kebebasan kita untuk memilih, bahkan Ia membiarkan kita untuk membuat pilihan-pilihan yang salah sekalipun, untuk menjaga kemampuan memilih kita. Pilihan-pilihan positif membawa hasil positif. Pilihan-pilihan negatif membawa akibat yang negatif.
Sejarah Alkitab dinodai kehidupan orang-orang yang hancur yang telah membuat pilihan-pilihan buruk. Kemarahan Kain yang tak terkendali menuntun dia membunuh adiknya. Ia menghabiskan hidupnya melarikan diri. Nafsu daud yang tak terkendalikan menuntun dia melakukan perzinahan dengan Betsyeba. Meskipun dia menerima pengampunan, tindakannya telah menghancurkan hubungan keluarganya. Keinginan Yudas yang tak terkendali terhadap uang membuat dia menjual Tuhannya dengan harga murah. Kehidupannya yang secara unik bertalenta berakhir terlalu cepat. Pilihan-pilihan buruk menuntun pada akibat yang membawa petaka.
Pikirkan Yususf, Daniel dan Paulus. Pilihan-pilihan positif mereka menuntun pada hasil yang menakjubkan. Pilihan Yusuf meolak rayuan istri Potifar mengubah perjalanan sejarah Mesir. Pilihan Daniel menolak anggur Babel mengubah alur sejarah Babel. Pilihan Paulus menolak penyembahan berhala kaisar mengubah sejarah roma.
Allah tidak memberikan karunia yang lebih besar selain kuasa memilih. Pilihan-pilihan yang benar dapat mengubah kehidupan anda lebih baik. Kini, ingatlah bahwa kita yang membungkus ‘sosis’ kehidupan kita sendiri. Bertekadlah membuat pilihan-pilihan yang baik dan jalani kehidupan yang berkelimpahan yang Allah ingin anda jalani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar